https://jurnal.stakmarturia.ac.id/umum/issue/feed Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia 2024-05-21T13:58:35+07:00 Mikha Bastian jurnal.marturia@gmail.com Open Journal Systems <p>Jurnal MARTURIA diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Agama Kristen Marturia Yogyakarta secara berkala (bulan Juni dan Desember). Tujuan jurnal ini adalah untuk mempublikasikan karya-karya ilmiah di bidang disiplin teologi dan pendidikan agama Kristen baik dalam bentuk artikel maupun resensi buku. Semua artikel yang masuk akan dinilai kelayakannya oleh mitra bestari secara tertutup (<em>blind review process</em>). Artikel yang diserahkan harus merupakan karya asli penulis yang belum pernah diterbitkan di jurnal atau penelitian lainnya dalam bahasa apapun.</p> <p>Nama Marturia diambil dari bahasa Yunani: <em>martyria</em>, yang berarti bersaksi. Seperti halnya arti dari Marturia sendiri, jurnal ini diharapkan dapat menjadi saksi kemuliaan Tuhan dalam dinamika akademik dan teori praksis.</p> https://jurnal.stakmarturia.ac.id/umum/article/view/46 Bangsa Kanaan sebagai Kritik Ideologi terhadap Bangsa Israel Tafsir Yosua 11:16-23 2024-05-21T13:37:44+07:00 Heri Purwanto purwantoheri234@gmail.com <p><strong><em>Abstract<br></em></strong>This interpretive article on the book of Joshua 11:16-23 aims to provide a reflection on the social and humanitarian events that have been full of acts of violence that have occurred recently. What is worse is that those who commit acts of violence and crimes against humanity are acting in the name of God's command and defending a particular religion. They "believe" that the actions they are carrying out are God's orders and are an obligation, while the losses and suffering experienced by the victim are not a problem. The Israelites' conquest of the Canaanites is an image of power and oppression carried out by the majority (strong) against the minority (weak). Based on the promise of the "promised land" and orders from the LORD, the Israelites occupied and controlled the land of Canaan and completely destroyed the Canaanite people. The Israelites, who were once an oppressed nation, then changed their role as oppressors to other nations. All the crimes committed by the Israelites against the Canaanites were holy war as a command from the Divine. On the other hand, the Canaanites as indigenous people became victims of the conquest of the Israelites as a nation that was "blessed" by GOD. The death of the Canaanites was a form of their courage in fighting for their land and nation as an inheritance from their ancestors that must be protected. Their resistance against the Israelites was a manifestation of their struggle as inferior people against superior people. In the text of Joshua 11:16-23, the Canaanites act as ideological critics of the conquest carried out by the Israelites.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p>Tulisan penafsiran tentang kitab Yosua 11:16-23 ini bermaksud untuk memberikan suatu refleksi atas peristiwa-peristiwa sosial dan kemanusiaan yang sarat dengan tindak kekerasan yang terjadi pada akhir-akhir ini. Parahnya, para pihak yang melakukan tindak kekerasan dan kejahatan kemanusiaan itu mengatasnamakan sebagai perintah Tuhan dan pembelaan terhadap agama tertentu. Mereka “mengamini” bahwa perbuatan yang mereka lakukan adalah perintah Tuhan dan menjadi suatu kewajiban, sedangkan kerugian dan penderitaan yang dialami oleh pihak korban bukanlah menjadi masalah. Penaklukan bangsa Israel terhadap orang-orang Kanaan adalah suatu gambar kekuasaan dan penindasan yang dilakukan oleh pihak mayoritas (kuat) terhadap pihak minoritas (lemah). Atas dasar janji “tanah perjanjian” dan perintah dari TUHAN, bangsa Israel melakukan pendudukan dan penguasaan terhadap tanah Kanaan serta menumpas habis orang-orang Kanaan. Bangsa Israel yang dulunya adalah bangsa yang tertindas (<em>oppressed</em>), kemudian berganti peran sebagai penindas (<em>oppressor</em>) terhadap bangsa-bangsa lain. Segala tindak kejahatan yang dilakukan oleh bangsa Israel terhadap orang-orang Kanaan adalah perang suci (holy war) sebagai perintah dari Yang Ilahi. Sebaliknya, orang-orang Kanaan sebagai penduduk pribumi menjadi korban atas penaklukkan bangsa Israel sebagai bangsa yang “dirahmati” TUHAN. Kematian orang-orang Kanaan merupakan suatu bentuk keberanian mereka dalam memperjuangkan tanah dan bangsanya sebagai warisan leluhur mereka yang harus dijaga. Perlawanan mereka terhadap bangsa Israel merupakan sebuah wujud perjuangan mereka sebagai orang-orang yang <em>inferior</em> terhadap yang <em>superior</em>. Dalam teks Yosua 11:16-23 ini bangsa Kanaan berperan sebagai kritik ideologi atas penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Israel.</p> 2023-12-01T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2023 Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia https://jurnal.stakmarturia.ac.id/umum/article/view/47 Anything Goes Ala Paul Feyerabend, Pendidikan Finlandia Sampai Ke Nadiem Makarim 2024-05-21T13:45:07+07:00 Dani Firmanto Simanjuntak danisimanjuntak63@gmail.com <p><strong><em>Abstract<br></em></strong></p> <p>I, as a [college] student of Indonesian standard education products, have experienced a barren of knowledge because of the ‘doctrine’ system in accordance with the prevailing interests in the Indonesian education system. Learning from the principle of <em>anything goes</em>, Feyerabend disassembles all projections of the unity of science and theory in the division of reality into an open space for other studies or theories. Freedom is the right word to express and actualize human beings themselves with others. The education system, which consists of scientific content, is an effort to liberate humans but is trapped in a system that enslaves them. Students no longer learn ‘for’, but learn ‘from’ which restrains them as humans playing (<em>homo ludens</em>) and learning. I compare Finnish education with Indonesian education, as an effort called Nadiem Makarim, simultaneous and moving changes.</p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p>Saya sebagai [maha] siswa produk pendidikan baku Indonesia selama ini mengalami kemandulan ilmu pengetahuan karena sistem ‘doktrin’ sesuai dengan kepentingan yang berlaku di dalam sistem pendidikan Indonesia. Belajar dari prinsip <em>anything goes</em>, Feyerabend membongkar semua proyeksi kesatuan ilmu dan teori di dalam kepelbagian realitas menjadi ruang terbuka untuk kajian-kajian atau teori yang lainnya. Kebebasan adalah kata yang tepat untuk mengekspresikan dan mengaktualisasikan diri manusia itu sendiri dengan yang lain. Sistem Pendidikan yang di dalamnya terdiri muatan ilmu pengetahuan adalah upaya membebaskan manusia, tetapi terjebak dalam sistem yang memperbudak. Siswa tidak lagi belajar ‘untuk’, tetapi belajar ‘dari’ yang mengekang dirinya sebagai manusia bermain (<em>homo ludens</em>) dan belajar. Saya membandingkan pendidikan Finlandia dengan Pendidikan Indonesia, sebagai upaya yang disebut Nadiem Makarim, perubahan yang serentak dan bergerak.</p> 2023-12-01T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2023 https://jurnal.stakmarturia.ac.id/umum/article/view/48 Gereja dalam Arus Politik Transaksional 2024-05-21T13:51:07+07:00 Ove Oktavian Purba 50210099@students.ukdw.ac.id <p><strong><em>Abstract<br></em></strong>Political Power, where in a democratic process such as the direct Election of Regional Heads to elect regents, mayors, governors, or members of the legislature today cannot be separated from the existence of the power of political capital from the candidates. This paper will discuss the Transactional Politics that occurs at the moment of the Election. It is hoped that this article will serve as a warning and a discourse that can be shared among the congregation considering that it is possible for important figures in the church to get trapped or involve themselves in the currents of transactional politics where they serve. An important point that will also be discussed is that the Church as a Religious Institution can be a source of Ethics and Morals for its followers in carrying out political activities as a form of service in the midst of society and the world.</p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p>Kekuatan Politik, di mana dalam proses demokrasi seperti Pemilukada langsung untuk memilih bupati, walikota, gubernur atau anggota legislatif dewasa ini tidak lepas dari keberadaan kekuatan pemodal politik dari kandidat calon. Tulisan ini akan membahas mengenai Politik Transaksional yang terjadi pada momen Pemilu.&nbsp; Tulisan ini diharapkan menjadi peringatan dan sebuah wacana yang dapat di <em>sharing</em> kan di tengah-tengah jemaat mengingat mungkin saja tokoh-tokoh penting dalam gereja terjebak ataupun melibatkan dirinya dalam arus politik transaksional di mana dia melayani. Pokok penting yang juga akan dibahas adalah Gereja sebagai sebuah Institusi Keagamaan dapat menjadi sumber Etika dan Moral bagi pengikutnya dalam melakukan aktivitas Politik sebagai bentuk pelayanannya di tengah-tengah masyarakat dan dunia.</p> 2023-12-01T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2023 Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia https://jurnal.stakmarturia.ac.id/umum/article/view/49 Tubuh Perempuan dan Artificial Intelligence 2024-05-21T13:55:23+07:00 Dian Ursula Yenifer Sarah tulenandian401@gmail.com <p><strong><em>Abstract<br></em></strong></p> <p>Nowadays, the flow of information and developments in the world of science is both an opportunity and a challenge that all elements continue to face. The world of theology is no exception, especially when facing various latest discoveries in the scientific world, for example, a technology called Artificial Intelligence or artificial intelligence. Departing from this, this paper aims to analyze the position of humans in terms of women's bodies in the midst of the presence of sexual robots. This paper uses a qualitative methodology with literature studies. The data will be obtained from various sources of scientific literature, documents, news, or written information that has a connection. The author will conduct an analysis with a feminist perspective on the presence of sexual robots that resemble women as a result of Artificial Intelligence. From the results of the writing, it was found that by embedding Artificial Intelligence into sexual robots, the warm and intimate relationship between men and women seems to have faded.</p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p>Sekarang ini arus informasi dan perkembangan dalam dunia sains menjadi peluang sekaligus tantangan yang terus dihadapi oleh semua elemen manusia. Tidak terkecuali dunia teologi, khususnya ketika menghadapi berbagai penemuan terbaru dalam dunia saintek misalnya teknologi yang bernama <em>Artificial Intellegence</em> atau kecerdasan buatan. Berangkat dari hal tersebut maka tulisan ini hendak bertujuan untuk menganalisis posisi manusia dalam hal tubuh perempuan di tengah kehadiran robot seksual. Penulisan ini menggunakan metodologi kualitatif dengan studi kepustakaan. Adapun data akan diperoleh dari berbagai sumber literatur ilmiah, dokumen, berita atau informasi tertulis yang memiliki keterkaitan. Penulis akan melakukan analisis dengan perspektif feminis terhadap kehadiran robot seksual yang menyerupai perempuan sebagai hasil dari Artificial Intellegence. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa dengan menyematkan Artificial Intellegence ke dalam robot seksual maka relasi hangat dan intim antara laki-laki dan perempuan seakan menjadi pudar.</p> 2023-12-01T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2023 Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia https://jurnal.stakmarturia.ac.id/umum/article/view/50 Kekerasan Verbal terhadap Hamba Tuhan (Pendeta) 2024-05-21T13:58:35+07:00 Jonson Marpaung marp.joe29@gmail.com Rencan Carisma Marbun rencaris72@gmail.com <p><strong><em>Abstract<br><br></em></strong></p> <p>Verbal violence is a form of violence that has not been very popular in the public sphere but has a tremendous impact when compared to the impact of other violence that is often exposed in the public sphere. Almost all lines of human life and relationships with others often face and even receive verbal violence. It is no exception for a servant of God (Pastor) who deals with the congregation and church institutions. The treatment received from the congregation served and even from the leadership of church institutions often hurts hearts and feelings. In this situation, a servant of God or pastor must keep in mind his duty and calling which must be ready to accept everything, for the sake of service to God. So, the Servant of God or Pastor who is God's messenger entrusted by God to carry out God's mandate on this earth must remain firm in His calling. The mandate or command is to make disciples of all mankind. There is no reason for a servant of God or a pastor to resign just because of the situation at hand. Because, whether the time is good or not, we must be ready to preach His salvation. In his duties and calling, a servant of God (pastor) is entrusted to serve God's people in His church. As the leader of the people, a servant or pastor must make Jesus Christ as the head. God appoints His servants to guard, guide, and teach the people to live according to God's will. Faithfulness to God is the strength of the servants in carrying out the task of service. Even in the task of service, pastors often face challenges, obstacles, and even great suffering. The power of the world is often an enemy for servants of God. However, in the midst of this struggle, servants of God must be strong and courageous. So faithfulness in serving God's work is the character of the servant required from God from the beginning of serving until reaching the finish line.</p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p>Kekerasan verbal merupakan salah satu bentuk kekerasan yang selama ini tidak terlalu populer di ruang publik, namun memiliki dampak yang luar biasa bila dibandingkan dengan dampak dari kekerasan-kekerasan lain yang sering dipaparkan di ruang publik. Hampir di semua lini kehidupan umat manusia dan hubungannya dengan sesama sering menghadapi dan bahkan menerima perlakuan kekerasan secara verbal. Tidak terkecuali bagi seorang hamba Tuhan (Pendeta) yang berhubungan dengan para jemaat dan institusi gereja. Perlakukan yang didapat dari para jemaat yang dilayani dan bahkan dari pimpinan institusi-institusi gereja sering sekali menyakiti hati dan perasaan. Dalam situasi tersebut seorang hamba Tuhan atau pendeta haruslah tetap mengingat tugas dan panggilannya yang harus siap sedia menerima segalanya, demi pelayanan kepada Tuhan. Maka, Hamba Tuhan atau Pendeta yang adalah utusan Allah yang dipercayakan Allah untuk menjalankan mandat Allah di bumi ini harus tetap berpegang teguh dalam panggilanNya. Adapun mandat atau perintah itu adalah untuk menjadikan seluruh umat manusia menjadi muridNya. Tidak ada alasan bagi seorang hamba Tuhan atau seorang pendeta untuk undur diri hanya karena situasi yang dihadapi. Sebab, baik atau tidak waktunya maka kita harus siap sedia untuk memberitakan keselamatanNya. Dalam tugas dan panggilannya seorang pelayan Tuhan (pendeta) dipercayakan untuk melayani umat Tuhan di dalam GerejaNya. Sebagai pemimpin umat maka seorang Pelayan atau Pendeta harus menjadikan Yesus Kristus sebagai kepala. Allah yang mengangkat para hambaNya untuk menjaga, menuntun dan mengajar umat agar tetap hidup sesuai dengan kehendak Allah. Kesetiaan kepada Tuhan adalah kekuatan para hamba dalam menjalankan tugas pelayanan. Meskipun dalam tugas pelayanan, para pendeta sering menghadapi tantangan, hambatan, bahkan penderitaan yang sangat hebat. Kekuatan dunia sering menjadi musuh bagi hamba Tuhan. Namun di tengah pergumulan itu hamba Tuhan harus kuat dan berani. Sehingga kesetiaan dalam melayani pekerjaan Allah merupakan karakter pelayan yang dituntut dari Allah sejak awal mengabdi hingga mencapai garis finis.</p> 2023-12-01T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2023 Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia